Rabu, 12 November 2014

Perbedaan antara cara AIKIDO dan cara PRAWIRA (baca: Pelatihan INTERAKSI cara PRAWIRA)



Pusat Pelatihan PRAWIRA
Rungkut Asri Barat 10 / 30, Surabaya.
Telpon: 8700076 


Perbedaan antara cara AIKIDO dan cara PRAWIRA (baca: Pelatihan INTERAKSI cara PRAWIRA)
1.   Saat berhadapan, ahli AIKIDO selalu mengambil sikap siap dengan kedua tangan disiagakan di depan dada dengan kaki di rentangmuka belakang. (sikap tangan beresiko disabet senjata lawan)
Saat berhadapan, praktisi PRAWIRA berdiri santai dengan lengan tergantung rileks di samping tubuh (meskipun siap gerak secepat apapun). Jarak respon diukur dalam batin / perasaan (kira-kira satu langkah + satu lengan + ukuran senjata yang dipakai). JUSTRU MIRIP SIKAP SIAGA Grand Master Ueshiba Morihei saat menghadapi lawan.
2.   Ahli AIKIDO melalukan jatuh dengan melambungkan tubuh. Jatuh depan dengan lengan (atau langsung bahu). Jatuh belakang dengan membiarkan kedua pantat menyentuh tanah.
Praktisi PRAWIRA harus dan hanya boleh jatuh dengan menggunakan satu pantat (sehingga aman untuk tulang ekor yang tidak normal sekalipun) dan tidak boleh ada benturan siku atau lutut dengan tanah, apalagi sampai berbunyi.
3.   Dalam AIKIDO, tidak ada penganalisaan gerak (hanya ada peniruan gerak).
Dalam PRAWIRA, setiap gerak (bahkan setiap bagian gerak tersebut) harus dilakukan dengan rasa / rileks dan secara sadar. Gerak tersebut juga harus merupakan gerak yang ilmiah dengan cara, jarak dan posisi yang aman (melalui penganalisaan dan koreksi secara rasional ilmiah).
4.   Pengakhiran interaksi dalam AIKIDO dilakukan dengan cara kuncian atau bantingan yang kuat, yang didahului dengan pukulan ATEMI.
Pengakhiran interaksi dalam PRAWIRA dilakukan dengan kuncian ringan (yang tidak menyakitkan tetapi tetap membuat lawan tidak berkutik) atau penghilangan keseimbangan tubuh lawan (dalam interaksi dengan lebih dari satu lawan), yang didahului dengan cubitan atau sodokan (dengan bagian telapak yang berdaging tebal).
5.   Semua waza / teknik gerak AIKIDO (karena baku – sudah ditentukan) dipelajari dengan cara “lihat – tiru – hafal”.
PRAWIRA tidak mempunyai teknik gerak baku, semua harus berupa kreasi spontan yang sederhana (singkat dan mudah dilakukan) dan disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan yang sedang dihadapi. Karena itu ketenangan diri dan kecermatan terhadap segala perubahan diutamakan dalam pelatihan PRAWIRA. Semua pelatihan harus dilakukan dengan cara “rasakan dan lakukan”.
6.   Dalam AIKIDO, pelatihan dijadwal menurut tingkatan dan perlu waktu yang cukup lama untuk dapat dipakai. Pelatihan dari tingkat KYU hingga DAN 3 merupakan pengulangan beberapa waza (dengan cara serang yang berbeda tetapi sudah ditentukan, termasuk  menghadapi serangan dengan pisau, tongkat dan pedang kayu).
Dalam PRAWIRA, pelatihan diajarkan langsung secara menyeluruh menurut kebutuhan nyata (dengan serangan yang realistis dan bebas dan solusi yang rasional ilmiah), Jadi, tidak perlu waktu lama (bertahun-tahun) untuk dapat memakainya secara nyata.
Sebagai contoh, pelatihan untuk pemula (baca: Pelatihan INTERAKSI cara PRAWIRA) dengan 9 (sembilan) macam materi pelatihan, yaitu:

1.    Ketenangan & kecermatan terhadap perubahan
2.    Cara jatuh alami ilmiah
3.    Gerak langkah
4.    Keselarasan interaksi cepat  (dengan / tanpa senjata)
5.    Gerak alami ilmiah
6.    Jarak dan posisi interaksi yang rasional
7.    Analis gerak / solusi (untuk koreksi gerak yang irrasional atau tidak ilmiah)
8.    Cara menetralisir dan melepas senjata (mis. pisau)
9.    Stamina
Semuanya diperuntukkan untuk menghadapi kebutuhan, kondisi dan situasi nyata.  
7.   Dan masih banyak lagi, sebab selain pernah mempelajari tinju, pencak-silat, kuntau (kungfu), dan lainnya, Pak PRAWIRA pernah mendapat bimbingan Grand Master Ueshiba Morihei dan menjadi instruktur internasional AIKIDO selama 40 tahun lebih – yang akhirnya terpaksa keluar dari AIKIDO sebab merasa yang diajarkan AIKIDO masa kini tidak lagi seperti yang beliau pahami dari Grand Master Ueshiba Morihei, dan juga masih ada beberapa penyebab lainnya. 

Selasa, 11 November 2014

Beda pelatihan PRAWIRA dibandingkan AIKIDO



Tingkat / Macam Pelatihan PRAWIRA
A.    Pelatihan  INTERAKSI  /  KECERDASAN AKAL SEHAT
         Pelatihan beladiri sederhana  &  Pendukung latihan olahraga pertandingan
         1.    Ketenangan & kecermatan terhadap perubahan
         2.    Cara jatuh alami ilmiah
         3.    Gerak langkah
         4.    Keselarasan interaksi cepat  (dengan / tanpa senjata)
         5.    Gerak alami ilmiah
         6.    Jarak dan posisi interaksi
         7.    Analis gerak / solusi 
         8.    Cara melepas senjata (pisau / tongkat)
         9.    Stamina
B.    Pelatihan  KREASI  /  RASA & KEMAUAN 
C.    Pelatihan  LANJUTAN  (khusus pembina / instruktur)


Tingkat terendah (bagi peserta pemula) 
pada pelatihan PRAWIRA adalah Pelatihan INTERAKSI / KECERDASAN AKAL SEHAT yang terdiri dari 9 macam pelatihan - yang tidak sama dengan pelatihan AIKIDO (terutama yang hanya untuk peragaan / EMBUKAI, bukan untuk pertandingan atau kejadian nyata yang sangat dinamis dan penuh perubahan gerak yang mendadak).

KETERANGAN  SINGKAT:
1. Ketenangan menghadapi masalah yang biasanya 
    muncul mendadak perlu dimiliki sebelum belajar segala
    jenis jurus / teknik beladiri.  
    Biarpun pandai macam-macam teknik, jika tidak tenang 
    dan tidak dapat menetralisir ancaman awal, kita akan 
    celaka lebih dulu (sebelum menerapkan teknik beladiri).
    Kecermatan terhadap perubahan gerak-gerik lawan juga 
    perlu dimiliki agar tidak mudah kaget dan bingung yang 
    akan membuat celaka diri sendiri. 

2. Cara jatuh selain alami harus juga ilmiah, supaya tidak 
    terjadi lebam atau terkilir. Cara jatuh yang dianjurkan 
    adalah cara jatuh dengan satu sisi pantat (bagian tubuh 
    yang berdaging tebal) dan cara jatuh yang wajar (tanpa 
    ada bunyi atau benturan).
3. Gerak langkah sederhana / singkat (yang mudah 
    dilakukan) untuk menghindar atau mencapai jarak dan 
    posisi aman perlu untuk proses interaksi / beladiri yang 
    dinamis.
4. Keselarasan interaksi cepat dengan gerak respon yang 
    alami ilmiah juga perlu dibiasakan, karena tidak ada  
    serangan lambat atau serangan cepat tetapi diatur dalam 
    kejadian yang nyata. Semua harus realistis.
5. Gerak alami ilmiah harus dikuasai. Gerak alami ialah 
    gerak yang selaras dengan faat tubuh manusia. Gerak 
    ilmiah ialah gerak yang sederhana / singkat tetapi efektif 
    dan efisien.
6. Jarak dan posisi interaksi yang aman pada setiap bagian 
    gerak harus selalu dijaga.
7. Analis gerak / solusi harus dilakukan dengan kecerdasan 
    akal sehat. 
    Solusi tidak boleh irrasional dan tiap bagian geraknya  
    harus disadari keamanan dan kemudahan geraknya. 
    Sebab beladiri nyata bukan pertunjukan di panggung 
    yang serba diatur / pura-pura.
8. Cara melepas senjata harus hati-hati, agar tidak celaka 
    sendiri (karena dianggap / dituduh melanggar hukum).
9. Stamina perlu, karena dalam kedinamisan dan 
    ketegangan interaksi seringkali nafas dan gerakan kacau 
    jika stamina tidak baik.