Rabu, 11 Juni 2014

Berbeda 180o dengan AIKIDO WAZA ! Lebih realistis, rasional dan ilmiah!

 Olahraga PRAWIRA

Sangat mirip dengan ajaran Grand Master Ueshiba Morihei 
tentang cara beladiri spontan yang berlandaskan AIKI.
TETAPI  berbeda 180o dengan AIKIDO WAZA !

Olahraga PRAWIRA  lebih realistis, rasional dan ilmiah! 


Asalkan mau belajar menari (untuk memahani interaksi yang harmonis rasional dalam segala tempo dan lokasi) dan senam (untuk memahami paduan gerak dengan rasa dan willpower) lebih dulu, siapapun boleh ikut olahraga kecerdasan akal sehat & beladiri spontan PRAWIRA.


di Stadion  Manahan, Solo  - 1/6 - 2014

   yang dapat dijadikan salah satu gerak beladiri wanita, 
yang langsung dapat dipakai secara efektif dan efisien 
sederhana (tanpa bentuk baku), dinamis (pelan atau cepat), 
dan bebas (berturutan atau kombinasi) mirip cara bertinju
(tetapi dengan keluwesan gerak dan kecerdasan akal sehat)

 tarian "gerak rasa" Olahraga PRAWIRA
Video:  http://youtu.be/SwF_hfnnT6w
salah satu gerak anggun bersinambungan yang juga dapat dipakai untuk beladiri 
(sesuai dengan sifat feminin dan keterbatasan kemampuan kaum wanita)
dapat lambat dan anggun, dapat juga riang dinamis



Beladiri dengan memanfaatkan gerak olahraga biasa, gerak tarian, atau gerak senam -- tanpa perlu jurus-jurus seni / ilmu beladiri.
 


Pusat Informasi Olahraga PRAWIRA

Rungkut Asri Barat  10 / 30,

Surabaya.

Telepon:  8700076


Segala informasi tentang Olahraga PRAWIRA hanya benar -- jika diberikan langsung oleh Bp. Prawira (perintis Aikido di Indonesia yang 
sesungguhnya dan yang mendapat pemahaman AIKI -- inti AIKIDO & beladiri spontan AIKI -- dari Grand Master Ueshiba Morihei) atau langsung oleh Pusat Informasi Olahraga PRAWIRA (yang semula merupakan Pusat Informasi Aikido di Indonesia).



Asal mula gagasan
olahraga PRAWIRA

Dari sumber:
AIR (perpaduan harmonis hidrogen dan oxigen) beserta sikap dan cara gerak air
dan ajaran:
1.  pengobatan diri-sendiri
2.  olahraga tinju & beberapa seni beladiri Asia
3.  keselarasan antara raga / gerak – rasa & pikiran – kemauan / semangat
4.  keselarasan interaksi
serta pengamatan dalam hal:
1.  kebutuhan hidup masa kini: kebugaran, kecerdasan, sikap bijak, dan kesejahteraan / kenyamanan hidup
2.  kondisi kesehatan dan cerapan ilmu sebagian besar masyarakat di Jawa, Sumatera, kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali
3.  mahalnya harga obat, biaya dokter dan rumah sakit
4.  keterbatasan kemampuan (kaum wanita, anak-anak, orang sakit, orang lanjut usia, dll.) dalam menghadapi suatu tindak kekerasan dan paksa yang tidak terelakan
dan pertanyaan:
1.  mengapa tidak ada olahraga yang dapat sekaligus menghasilkan kebugaran, kecerdasan akal sehat, dan sikap bijak
2.  mengapa tidak ada seni / ilmu beladiri yang seperti olahraga tinju yang begitu dipelajari dengan benar, selama setengah jam misalnya, dapat langsung dipakai / diterapkan secara nyata, baik untuk olahraga maupun untuk beladiri.
3.  mengapa tidak ada cara beladiri yang betul-betul sesuai dan berguna untuk kaum wanita dan anak-anak (padahal tindak paksa dan kekerasan terhadap kaum lemah makin bertambah / sering terjadi)
4.  mengapa gerak tari dianggap tidak dapat digunakan untuk beladiri, bahkan ada seni beladiri yang dibuat menari sehingga hasilnya aneh karena disebut tarian ada gelundungan (rolling), disebut beladiri tampak gerakannya sudah tidak efektif apalagi efisien
munculah gagasan:
Olahraga PRAWIRA
untuk segala usia dan segala gender
agar dapat menjadi tetap (bahkan lebih) bugar, cerdas, dan bijak (dalam menghadapi dan mengatasi masalah)
Olahraga PRAWIRA
yang mengajarkan:
1.  gerak tari (anggun / lambat atau riang / dinamis)
(untuk melatih keterampilan berinteraksi secara rasional dan ilmiah dalam tempo apapun)
2.  gerak senam (lambat atau cepat)
(untuk melatih perpaduan nafas, tempo dan model gerak, daya rasa, daya kemauan, dan daya konsentrasi dalam tempo apapun)
3.  olahraga kecerdasan akal sehat
(untuk mengatasi masalah dengan pendekatan faktor  WHAT – WHY – HOW – WHEN)
4.  beladiri sederhana dengan kreasi spontan
(yang mudah, alami, rasional, ilmiah, bijak)